EDUKASI PENGGOLONGAN OBAT DAN PENGGUNAAN OBAT YANG AMAN DI SMPN 13 SAMARINDA

  • Patrilia Noor Dwi C Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda
  • Ferliani Fransisca Sa’pang Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda
  • Davi Kusuma Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda
  • Putri Faddilla Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda
  • Lastika Viola Dwinova Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda
  • Della Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda
  • Della Novi Aulia Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda
  • Paulina Fitriani Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda
Keywords: Edukasi obat, DAGUSIBU, pengabdian masyarakat, flipchart, penggolongan obat

Abstract

Obat-obatan secara umum digunakan untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit. Pengawasan penggunaan obat-obatan saat ini dilakukan dengan memperkenalkan istilah DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan dan Buang). Program pada pengabdian ini dirancang untuk membuat kesadaran siswa/i akan bahaya penyalahgunaan obat, termasuk obat bebas, obat keras, dan narkotika. Pengabdian ini menggunakan pendekatan dengan pengisian post test. Instrumen pengumpulan data berupa post test yang diberikan sesudah kegiatan edukasi. Kegiatan edukasi itu sendiri dilaksanakan menggunakan metode Flip chart dianggap dapat menjaga perhatian siswa/i terhadap materi pembelajaran dan mencegah peserta didik dari rasa bosan. interaktif yang dibantu media flip chart, diselingi permainan edukatif untuk membuat partisipasi siswa/i. Peserta dibagi dalam kelompok kecil (10 siswa per kelompok) untuk memfasilitasi diskusi dan pemahaman yang lebih baik. Siswa/i yang awalnya tidak paham mengenai penggolongan obat dan cera penggunaan obat yang benar setelah dilakukan edukasi, mengindikasikan adanya pemahaman dari siswa/i tentang penggolongan obat dan cara penggunaan yang benar. Edukasi DAGUSIBU pada kelompok kecil menggunakan media flip chart berdampak pada peningkatan pengetahuan siswa. Hal ini terlihat dari peningkatan pengetahuan kategori tinggi dari 33% menjadi 60% setelah dilakukan edukasi. Meskipun demikian, masih terdapat proporsi siswa dengan pemahaman sedang sebanyak 36,67%, menunjukkan perlunya strategi pembelajaran yang beragam dan terdiferensiasi untuk mencapai pemahaman optimal bagi seluruh siswa. Hasil ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan program edukasi kesehatan di sekolah-sekolah lain.

Published
2026-04-28